Berminggu sudah kulewati tampa amarah,
Tenang.
Damai.
Berminggu sudah sejak kuputuskan untuk tidak cepat marah,
Tetapi dia salah satu dari sekian banyak yang kusayang memancing amarah,
Aku terpancing,
Aku marah,
Aku berteriak kepadanya,
Aku menginginkan dia juga merasakan sakit hati yang kurasakan,
Tidak peduli dia itu siapa….
Saat ini aku cuma mau marah…
Tiada kata yang menyatakan aku menyerah, aku hanya mau menyakiti dia sekarang…
Sampai akhirnya dia pergi meninggalkan aku…
Meninggalkan aku yang akhirnya diam karena amarah..
Meninggalkan aku yang sedetik setelah dia pergi hatiku menjerit…
Menjerit karena menyesal, menyesal mengeluarkan amarah pada dia…
Dia salah satu dari sekian banyak yang kusayang.
Dia satu-satunya pria yang dicintai Mama-ku setelah Papa kandung-ku wafat…
NB: “Pak, wida minta maaf ”
Tenang.
Damai.
Berminggu sudah sejak kuputuskan untuk tidak cepat marah,
Tetapi dia salah satu dari sekian banyak yang kusayang memancing amarah,
Aku terpancing,
Aku marah,
Aku berteriak kepadanya,
Aku menginginkan dia juga merasakan sakit hati yang kurasakan,
Tidak peduli dia itu siapa….
Saat ini aku cuma mau marah…
Tiada kata yang menyatakan aku menyerah, aku hanya mau menyakiti dia sekarang…
Sampai akhirnya dia pergi meninggalkan aku…
Meninggalkan aku yang akhirnya diam karena amarah..
Meninggalkan aku yang sedetik setelah dia pergi hatiku menjerit…
Menjerit karena menyesal, menyesal mengeluarkan amarah pada dia…
Dia salah satu dari sekian banyak yang kusayang.
Dia satu-satunya pria yang dicintai Mama-ku setelah Papa kandung-ku wafat…
NB: “Pak, wida minta maaf ”


0 Comments:
Post a Comment
<< Home