waktu sepupu gw yang cowok memberitahukan akan segera menikah dalam waktu dekat gw engga terlalu kaget. walaupun kalau diliat dari umurnya yang mungkin baru 22 tahun itu. sebagai orang tua tentu saja om dan tante gw setuju dengan keputusan putranya ini mungkin dengan pemikiran bahwa anaknya udah punya kerjaan tetap dan mungkin dia merasa mampu untuk memberi makan calon istri dan calon anaknya kelak walaupun untuk biaya pernikahan putranya ini sang ayah menghabiskan uang pensiun yang belum lama ini keluar...duh ini baru anak yang ke-dua yang akan menikah. belum lagi anak mereka yang pertama, lalu ditambah ke tiga adik sepupu gw yang lain...
Hebat ya pada orang-orang yang berani mengambil keputusan. mudah-mudahan si orangtua juga udah memberikan wanti-wanti kalau menikah itu bukan keputusan sesaat, kalau menikah itu berarti harus siap menjelang kebahagian sudah tentu dan yang lainnya adalah masalah baru, kalau sudah bilang cinta gw harap mereka tidak akan merepotkan orangtua lagi. silakan dinikmati berdua rasa cinta tersebut dari manis berharap akan selalu terasa manis.jaga ya cinta manis tersebut supaya engga berubah jadi asin atau pahit!! pahitnya cinta...tau sendiri...
Tetapi waktu sepupu gw yang lain perempuan, juga dengar-dengar memutuskan untuk menikah gw sedikit kaget. sampe beres-beres rumah dan cuci piring-pun hal tersebut masih mengganggu pikiran gw ini. sambil beres-beres rumah alam pikiran gw mengangkasa bersama semakin tingginya matahari pagi ini. kenapa dia harus menikah di usia yang masih belia? apakah karena himpitan ekonomi yang begitu berat? sehingga apapun yang dia perbuat saat ini adalah serba salah karena sepupu gw ini baru saja lulus sekolah belum bekerja, atau dia merasa malu pada orangtua karena hal lain...sehingga harus segera "menitipkan" diri pada orang lain? ini membuat gw sedih. hal seperti ini gw dan kakak gw pernah alami. karena himpitan ekonomi yang sangat memprihatinkan kita anak-anak perempuan terkadang sok mempunyai iniasiatif sendiri dan ingin mencari solusi secepatnya bagaimana caranya untuk keluar dari rumah menghindari uring-uringan orangtua yang menuntut anaknya untuk bekerja atau cepat-cepat keluar dari rumah untuk mengurangi beban orangtua. masih beruntung buat gw tidak mengambil jalan pintas dengan asal memilih seseorang untuk bersandar. siapa yang salah?
menjadi orangtua itu sulit tetapi jangan juga berpikir menjadi seorang anak yang dituntut untuk membalas budi itu tidak terjepit...
dibutuhkan kesiapan untuk menjadi orangtua, dibutuhkan seribu alasan kenapa kita mau punya anak. pendidikan dan kebutuhan anak itu kewajiban yang harus dipenuhi orangtua. itu juga yang harus gw dan suami lakukan dalam waktu yang tidak terbatas..
Ya Allah...
hidup memang tidak mudah, alangkah mirisnya apabila sepupu gw yang perempuan ini memutuskan untuk menikah hanya karena himpitan ekonomi, hanya karena ingin meringankan beban orangtua.
apakah dia tau hidup tidak berhenti setelah pesta pernikahan?
Hebat ya pada orang-orang yang berani mengambil keputusan. mudah-mudahan si orangtua juga udah memberikan wanti-wanti kalau menikah itu bukan keputusan sesaat, kalau menikah itu berarti harus siap menjelang kebahagian sudah tentu dan yang lainnya adalah masalah baru, kalau sudah bilang cinta gw harap mereka tidak akan merepotkan orangtua lagi. silakan dinikmati berdua rasa cinta tersebut dari manis berharap akan selalu terasa manis.jaga ya cinta manis tersebut supaya engga berubah jadi asin atau pahit!! pahitnya cinta...tau sendiri...
Tetapi waktu sepupu gw yang lain perempuan, juga dengar-dengar memutuskan untuk menikah gw sedikit kaget. sampe beres-beres rumah dan cuci piring-pun hal tersebut masih mengganggu pikiran gw ini. sambil beres-beres rumah alam pikiran gw mengangkasa bersama semakin tingginya matahari pagi ini. kenapa dia harus menikah di usia yang masih belia? apakah karena himpitan ekonomi yang begitu berat? sehingga apapun yang dia perbuat saat ini adalah serba salah karena sepupu gw ini baru saja lulus sekolah belum bekerja, atau dia merasa malu pada orangtua karena hal lain...sehingga harus segera "menitipkan" diri pada orang lain? ini membuat gw sedih. hal seperti ini gw dan kakak gw pernah alami. karena himpitan ekonomi yang sangat memprihatinkan kita anak-anak perempuan terkadang sok mempunyai iniasiatif sendiri dan ingin mencari solusi secepatnya bagaimana caranya untuk keluar dari rumah menghindari uring-uringan orangtua yang menuntut anaknya untuk bekerja atau cepat-cepat keluar dari rumah untuk mengurangi beban orangtua. masih beruntung buat gw tidak mengambil jalan pintas dengan asal memilih seseorang untuk bersandar. siapa yang salah?
menjadi orangtua itu sulit tetapi jangan juga berpikir menjadi seorang anak yang dituntut untuk membalas budi itu tidak terjepit...
dibutuhkan kesiapan untuk menjadi orangtua, dibutuhkan seribu alasan kenapa kita mau punya anak. pendidikan dan kebutuhan anak itu kewajiban yang harus dipenuhi orangtua. itu juga yang harus gw dan suami lakukan dalam waktu yang tidak terbatas..
Ya Allah...
hidup memang tidak mudah, alangkah mirisnya apabila sepupu gw yang perempuan ini memutuskan untuk menikah hanya karena himpitan ekonomi, hanya karena ingin meringankan beban orangtua.
apakah dia tau hidup tidak berhenti setelah pesta pernikahan?


0 Comments:
Post a Comment
<< Home