RaNi_giLA

Thursday, October 20, 2005

BBm (bukan) bau badan dan Mulut!...

waktu gw berangkat ke Hongkong di Indonesia lagi gencar-gencarnya demontrasi harga kenaikan harga BBM, puncaknya ya tanggal 1 Oktober dan pas di tanggal ini pagi-pagi pesawat gw sudah meninggalkan negara Indonesia tercinta. Sehari sebelumnya tanggal 29 malam gw masih muter-muter Jakarta dan macet dimana-mana karena demontrasi ditambah karena antrian panjang kendaraan yang ingin membeli BBM sebelum harga dinaikkan, gw liat di televisi kalau para demontran sudah berencana jauh-jauh hari untuk mengadakan demontrasi besar-besaran esok harinya 1 oktober. Di taxy gw liat bertruk truk angkatan bersenjata sudah bersiap-siap ditempat biasa para demontran mengadakan demontrasi.. terpikir oleh gw akan seperti apakah demontrasi esok hari, sedikit bersyukur karena penerbangan gw pagi hari. Minimal jam 6 pagi gw udah meninggalkan Jakarta dan yakin engga akan kejebak macet.
Selama 2 minggu di Hongkong gw bener-bener tidak memikirkan masalah kenaikan harga BBM di Indonesia, setiba di Hongkong malah pemberitaan bom Bali yang menyita perhatian gw, hampir setiap channel dari kamar hotel menyiarkan Bom Bali terus-menerus selama 3 hari berturut-turut setelah itu wush…!! Hilang begitu saja. Dan gw menjalani sisa hari yang lain dengan tenang.
Pas pulang ke Indonesia, kakak gw yang menjemput langsung membicarakan topik hangat negeri tercinta yaitu harga kenaikan BBM! Betapa kenaikan BBM ini sangat berpengaruh di keluarga gw, juga tentunya kakak gw yang setiap hari tugasnya marketing studio gw dan bawa kendaraan sendiri. Dia bilang harga bensin mencekik leher, bla..bla..bla…
Waktu dia menceritakan tentang kenaikan harga BBM toh gw baru pulang dan belum ngerti sejauh apa dan berapa % kenaikan harga BBM ini. So gw Cuma mendengarkan tanpa merespon lebih jauh.
Cerita punya cerita setelah beberapa hari pulang barulah gw ngerti masalah kenaikan harga BBM ini. BBM naik 100%, otomatis ongkos angkot naik 100%, bahan baku di pasar juga, harga album yang biasa gw beli naik…ppffuuhhh…sampe mama cerita kalau dikampung gw ada nenek-nenek mati karena antri membeli minyak tanah. Saking berdesak-desakan nya si nenek terinjak-injak. Sama kasusnya dengan nenek-nenek yang mati karena mengantri untuk mengambil uang subsidi BBM dari pemerintah yang 3 bulan 300.000 rupiah, karena si nenek takut tidak bisa mengambil uang kalau diwakilkan terpaksalah beliau-beliau yang sudah tua renta ini mengantri dan mati. Disini gw ngerti sebegitu parahkah dampak kenaikan harga BBM di negeri tercinta ini. Apa yang bisa diperbuat untuk mengatasi masalah ini. Demotran berteriak-teriak, sebagian wakil rakyat pun protes menunjukkan rasa solidaritas mereka untuk ketidak setujuan akan kenaikan harga BBM ini. Sungguh gw berharap “mereka” tidak pura-pura berteriak: berteriak tetapi di belakang nyengir kuda.
Untuk gw pribadi gw engga bisa turun ke jalan dan protes, engga bisa juga menyalahkan Presiden dan memberitahu beliau apa yang seharusnya dilakukan, Toh kalau gw Presiden mungkin saat ini gw udah harakiri mengakhiri hidup gw karena gw ngerasa bersalah tidak bisa menahan harga kenaikan BBM. Gw engga mau jadi Presidan!
Yang bisa gw lakukan setiap melewati SPBU dan mengisi bensin hanya-lah bilang “sialan” di dalam hati dan menghela nafas karena teringat…..??

Teringat: nenek-nenek yang mati terinjak-injak!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home