Sudah ada setahun terakhir ini gw mencari jawaban tentang apa sih enaknya berselingkuh? Apa sih enaknya mendua?
Kasus ini gw akuin memang pernah juga terjadi pada diri gw sendiri. Entahlah kalau dipikir-pikir saat ini sepertinya itu perbuatan yang sangat tidak berguna. Membuang-buang waktu, menutupi kebohongan bahkan selalu berusaha untuk menciptakan kebohongan–kebohongan selanjutnya sampai sepertinya pikiran ini sepertinya hampir sama dengan seorang pembunuh yang selalu ingin aman tidak disebut tersangka dengan selalu menyertakan alibi untuk menutupi kebohongan-kebohongan.
Lambat laun toh gw yakin seseorang yang pada posisi ini memang akan berpikir. Berpikir apakah perbuatannya itu suatu kebodohan atau bukan. Tetapi sayangnya tidak sedikit juga manusia menyadari tetapi semuanya sudah terlambat.
Bisa dibayangin engga kalau perselingkuhan bisa membuat seorang ibu lupa akan anak-anaknya dirumah? Apa yang ada dipikirannya waktu itu ya? Mungkin rasanya si ibu ingin selalu berduaan dengan kekasih barunya. Melupakan suami yang memang terlalu baik dirumah, atau meninggalkan suami yang dia ciptakan sendiri supaya menutupi kesalahan dengan bilang pada sang kekasih kalau suaminya-lah yang berbuat serong, atau suaminya kasar atau si istri mengalami kekerasan dalam rumah tangga..cerita apapun akan di rangkai untuk menciptakan suasana hati dia menikmati hubungan tampa ikatan. Apapun jalan dia tempuh supaya si istri yang selingkuh terlihat benar dengan perselingkuhannya. Wanita….
Wanita itu pandai, dia bisa memutarbalikkan fakta dengan airmata.. padahal engga sedikit wanita memang mempergunakan airmata untuk penyelamatan diri.
Satu teman saya beranak 2, perkawinannya berakhir karena berselingkuh. Setelah bercerai dia menjalani hubungan dengan si selingkuhannya tampa ikatan. Sistemnya hanya layaknya orang berpacaran. Sabtu dan minggu mereka bertemu sampai seringkali si teman ini tidak pulang sampai hari esoknya. Anak-anaknya? Tentu dia merasa aman dan pendidikan anak-anaknya baik baik saja karena ada tante, nenek atau pun adik yang turut bergantian menjaga 2 anaknya yang baru tumbuh itu. Semua tidak berhenti sampai disini setelah beberapa waktu lalu hubungannya berakhir dengan si selingkuhannya itu, temen gw ini dia dengan senang hati menjajal setiap laki-laki yang menurutnya bisa membuat dia merasa masih cantik. Sempat terpikir temanku ini buta atau dia membabi buta dengan membuktikan kalau dia masih menarik?
Entahlah akan berlabuh pada siapakah temanku ini pada akhirnya? Dia bisa baik pada lelaki yang selalu memberi janji-janji muluk apalagi materi sepertinya dia akan langsung nempel kayak perangko dan memuji si laki-laki setinggi langit..engga peduli pulang pagi, engga peduli anak-anak dirumah dengan siapa. Miris memang melihatnya. Anak-anak yang diharapkan dulunya untuk dilahirkan ke dunia harus dibesarkan dalam kondisi seperti itu. Anak-anak ya tetap anak-anak tapi kan sebentar lagi mereka akan tumbuh dewasa dan teringat akan apa yang dilakukan ibunya dulu…iihhh terus terang gw ngeri setengah mati kalau gw ada di posisi dia seperti sekarang ini.
Hujan aja ada redanya, masa temanku itu akan terus-menerus seperti it